
PERKIRAAN HITUNGAN KASAR BETERNAK IKAN LELE DUMBO
Semalam saya sempat hitung dengan kalkulator tentang prospek dari usaha pembesaran ikan lele dumbo ini. Sekarang saya akan coba membagi dan memberikan sedikit gambaran hasil pemikiran saya semalam tentang analisa kasar dari budidaya ikan lele dumbo skala rumahan. Anggaplah ini hanya ide kecil saya sebagai sarana berbagi dengan sesama. Mudah mudahan bermanfaat dan berguna bagi rekan rekan semua yang hendak memulai atau mungkin mulai tertarik untuk menerjuni usaha rumahan ini.
PERHITUNGAN KASAR MODAL USAHA
1. Kolam Permanen Bibit Lele ( 2 Petak )
1.1. Material Kolam ( Ukuran 3 x 2 x 1 dan 4 x 1,5 x )
Batu Bata 1600 Buah x Rp. 500.- = Rp. 800.000.-
Pasir 1 Pick Up = Rp. 500.000.-
Semen 8 Sak x Rp. 80.000 = Rp. 640.000.-
Ongkos Tukang 7 Hari x Rp. 40.000 x 2 Orang = Rp. 560.000.-
TOTAL = Rp. 2.500.000.-
1.2. Dasaran ( Media Dasar Kolam )
Pupuk Kompos 20 Sak x Rp. 5000.- = Rp. 100.000.-
Pupuk Mix Jadi 20 Sak x Rp. 5000.- = Rp. 100.000.-
Kapur 5 Pcs x Rp. 5000.- = Rp. 25.000.-
TOTAL = Rp. 225.000.-
1.3. Bibit Lele
Bibit Ukuran 8-9 cm 4000 ekor x Rp. 250.- = Rp. 1.000.000.-
1.4. Perlengkapan & Lain-Lain
Jaring Ikan 1 Buah = Rp. 25.000.-
TOTAL SELURUHNYA = Rp. 3.750.000.-
NB : Total modal diatas belum termasuk harga pakan bibit lele merk F-99, saya tidak memasukkan biaya pakan karena biaya pakan termasuk biaya tetap yang harus dibedakan penggolongannya dari biaya modal.
PERHITUNGAN KASAR HASIL USAHA
Diasumsikan bahwa dari total 4000 ekor benih yang dipelihara memiliki tingkat kematian atau mortalitas sebesar 10% atau 400 ekor, maka jumlah sisa ikan yang tersedia sampai dengan masa panen ( 3,5 Bulan ) adalah 3600 ekor.
Metode perhitungan yang saya terapkan ini memang terbilang sederhana dan mungkin lebih bersifat konvensional dan juga kuno, tapi berdasarkan pengalaman saya, metode inilah yang kebanyakan dipakai oleh para produsen besar sebagai strategi mereka dalam merebut pangsa pasarnya sebagai produsen lele dumbo konsumsi, dengan segmen pasar yang terbilang khusus untuk para pemilik depot, warung, warteg dan rumah makan saja, bukan sebagai supplier atau dijual ke pedagang di pasar tradisional. Jadi terserah anda saja mau pilih yang mana saja, semua kembali pada strategi bisnis yang akan anda terapkan.
Jumlah kapasitas hasil usaha anda untuk panen pertama ini adalah 3600 ekor : 8 ekor = 400 Kg
sedangkan perhitungan harga ikan per ekor adalah sebagai berikut :
1. Rp. 2.500.000.- : 3600 ekor = Rp. 634,44.-
2. Rp. 225.000.- : 3600 ekor = Rp. 62,50.-
3. Rp. 1.000.000.- : 3600 ekor = Rp. 277,78.-
4. Rp. 25000.- : 3600 ekor = Rp. 6,95.-
TOTAL = Rp. 981,67.-
Rp. 981,67.- tersebut akan kita bulatkan menjadi Rp.1000.- / ekor ( harga pokok produk ).
Jadi ada sisa keuntungan tambahan sebesar Rp. 1000.- Rp. 981,67 = Rp.18,33.- / ekor.
Kalikan sisa keuntungan dengan jumlah bibit yang ada, maka diperoleh Rp. 18,33 x 3600 ekor = Rp. 65.900.-
Anggap saja Rp. 65.900.- yang anda dapatkan ini sebagai pendapatan yang tidak tercatat atau anggap saja keuntungan ini tidak ada.
Normalnya dalam tiap 1 Kg berisi 8-10 ekor ikan lele, ini menurut pengakuan dari penjual dan pembeli lele dumbo yang saya temui di sekitaran kampus saya di Surabaya. Namun yang lebih diprioritaskan oleh para pembeli yakni yang berisi 8 ekor dalam tiap kilogramnya, karena selain bobot lebih besar, mereka tidak ingin merugi.
Menurut para pemilik warung pecel lele dan pemilik depot-depot sekitaran kampus saya yang menjadi konsumen tetap dari lele dumbo ini, harga lele konsumsi di Pasar Soponyono, Rungkut, Surabaya per April 2010 ini untuk yang berisi 8-9 ekor dalam tiap kilogramnya, adalah sekitar Rp. 13.000.- / Kg, asumsikan harga ini berlaku pada pasar lele sekitaran kawasan anda. Maka apabila dalam tiap kilogram berisi 8 ekor Rp. 1000.- x 8 ekor = Rp. 8000.- / Kg. Bukankah sangat tidak mungkin jika kita hanya akan menjual ikan-ikan tersebut dengan harga Rp. 8000.- / Kg, karena nilai biaya dari "keringat" yang anda kerahkan selama proses pembesaran masih belum mendapatkan kompensasi yang setimpal, setidaknya menurut bahasa para bonek / arek-arek suroboyo disini adalah "duit rokok". Maka untuk mengantisipasinya, cobalah untuk mengambil keuntungan Rp. 500.- s/d Rp. 1000.- untuk tiap kilogramnya, toh harga ini masih jauh dibawah harga standar pasar.
Maka penghasilan total anda adalah 400 Kg x Rp. 8000.- = Rp. 3.200.000.- ( penghasilan pokok produk )
sedangkan total nominal keuntungan anda adalah 400 x Rp. 500.- = Rp. 200.000.-
Ini terbilang hasil yang lumayan untuk seorang pemula, anda dapat meningkatkan harga jual anda pada panen-panen selanjutnya secara bertahap, terserah, silahkan anda tentukan sendiri berapa harga jual yang akan anda patok untuk tiap kilogram hasil panen anda, asalkan tidak melebihi harga standar pasar tradisional, setidaknya masih terdapat gab antara Rp. 1500.- s/d Rp. 2000.- dari harga standar di pasar tradisional, sebagai bahan pembanding bagi para calon konsumen anda dan sebagai sebuah alasan mengapa mereka harus membeli ikan di tempat anda. Teori perilaku konsumen dan hukum ekonomi sangat kuat dimainkan dalam tipikal bisnis semacam ini.
Untuk mengetahui berapakah sebenarnya keuntungan bersih anda, maka, Rp. 3.200.000.- dapat dikurangkan dengan biaya pakan selama masa pemeliharaan, misalkan :
Rp. 3.200.000 – Rp. 300.000 = Rp. 2.900.000.- , jadi marjin keuntungan bersih anda adalah
Rp. 2.900.000.- untuk panen pertama anda, dapat anda bayangkan bagaimana hasilnya untuk panen kedua, ketiga, keempat, dst… saya berani jamin modal awal usaha anda dapat kembali hanya dalam 2X panen saja atau sekitar 6 – 7 bulan, tergantung bagaimana anda merawat dan membesarkan bibit-bibit anda tersebut. Normalnya lele dumbo yang layak jual, dengan bobot +/- 0,125 ons / ekor ( diasumsikan 8 ekor / Kg ), dapat dipanen dalam 3 - 4 bulan, dengan catatan, intensitas pemberian pakan yang diberikan selalu teratur, ditunjang dengan media tanah sebagai alas dasar kolam. Itu artinya untuk lele dumbo memiliki frekwensi panen 2X lebih banyak dibandingkan lele lokal yang bisa dipanen dalam waktu 5 - 6 bulan untuk bobot yang sama. berarti lele dumbo dapat panen 3 - 4 kali / tahun, sedangkan lele lokal cuma 2 X dalam setahun.
Produktivitas panen lele lokal VS lele Dumbo = 2 : 4 atau jika disederhanakan = 1 :2
Dengan strategi biaya rendah ini, anda dapat merebut persaingan dengan para pedagang lainnya disekitar kawasan pemukiman anda, tanpa mengesampingkan etika bisnis, hal ini sebenarnya sah-sah saja, karena hal ini murni hanya strategi bisnis semata, bukan untuk menjatuhkan harga pasar. Logikanya, pembeli mana sih yang tidak senang membeli suatu produk yang sesuai dengan kriteria pencariannya dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan produk lainnya.masih dalam konteks pembicaraan sebagai seorang konsumen, saya jamin anda pun akan berpendapat hal yang serupa dengan saya.
Ini adalah bisnis yang logis, dengan keuntungan yang lumayan, anggaplah ini sebagai usaha rumahan atau usaha sampingan anda, sebagai tambahan anda untuk beli "keperluan dapur" saja.
Demikian sedikit informasi yang dapat saya bagikan, mudah-mudahan dapat berguna sebagai sarana pemberdayaan masyrakat dengan berorientasi pada pendayagunaan lingkungan sekitar kita.